Jumat, 14 Juni 2013

Nilai jawa islam menghadapi modernisasi

I.       Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Bangsa yang besar adalah bangsa yang terus berpijak pada budaya, kemanapun bangsa tersebut berkembang. Apalah arti nilai-nilai adiluhung yang terkandung dalam budaya tersebut apabila kelak akan terhenti pada suatu generasi. Seberapa erat sang penerus menjaga menjaga akar kebudayaan akhirnya menjadi faktor tertentu kebesaran sebuah bangsa. Budaya Jawa, sebagai satu dari sekian ragam budaya yang dimiliki bangsa kita tengah berdiri menghadapi tantangan yang juga menjadi tantangan setiap budaya di era modern.
Salah satu dilema yang dihadapi masyarakat yang sedang berada dalam era modernisasi adalah bagaimana menempatkan nilai-nilai dna organisasi keagamaannya ditengah-tengah perubahan yang terus terjadi dengan cepat dalam kehidupan sosialnya. Disatu pihak ia ingin mengikuti gerak modernisasi, dipihak lain ia tidak ingin kehilangan karakteristik kepribadiannya yang ditandai dengan berbagai macam nilai yang dianutnya.
Pada pembahasan makalah kami ini, akan mencoba mendiskripsikan tentang dinamika nilai Jawa Islam, bagaimana perpaduan nilai budaya Jawa dengan Islam, dan tantangan modernitas terhadap nilai-nilai Jawa Islam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perpaduan nilai budaya Jawa dengan Islam?
2.      Bagaimana enkulturasi nilai budaya Jawa Islam?
3.      Bagaimana dinamika nilai Jawa Islam dalam menghadapi modernisasi?










II.    Pembahasan
A.    Nilai Jawa Islam
Agama Islam mengalami proses lokalisasi di Jawa. Islam di Jawa telah disesuaikan dengan cara hidup Jawa,[1] serta disesuaikan dengan kebudayaan yang ada di Jawa. Kebudayaan adalah hasil daya cipta, karsa, dan rasa manusia.[2] Ada dua faktor yang mendorong terjadinya perpaduan nilai-nilai budaya Jawa dan Islam:
1.   Secara alamiah, sifat dari budaya itu pada hakikatnya terbuka untuk menerima unsur budaya lain.
2.   Sikap toleran para walisongo dalam menyampaikan ajaran Islam di tengah masyarakat Jawa yang telah memiliki keyakinan pra Islam yang sinkretis.[3]
B.     Enkulturasi nilai budaya Jawa Islam
Enkulturasi (Pembudayaan) yang secara terus-menerus dilakukan melalui tradisi lisan maupun tertulis membuat nilai budaya dalam setiap individu tertanam secara mantap. Kuatnya adat istiadat yang melekat dalam diri seseorang menyebabkan sulitnya merubah adat yang telah mengakar dalam masyarakat.
Dalam enkulturasi nilai budaya Jawa Islam, selain dilakukan oleh individual dan masyarakat, juga didukung pula oleh penguasa. Enkulturasi yang dilakukan secara mantap oleh raja maupun masyarakat dalam waktu yang lama menyebabkan nilai budaya Jawa Islam sampai sekarang masih melekat di masyarakat Jawa, walaupun telah mengalami pergeseran, sebagaimana lazimnya budaya lain yang mengalami perubahan, sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat pencipta kebudayaan tersebut.[4]
C.    Dinamika nilai Jawa Islam dalam menghadapi modernisasi
Kata “modern”, “modernitas”, dan “modernisasi” merupakan pengertian-pengertian abstrak yang sudah sangat populer. Dan yang lebih menonjol dari modernitas yang kita hadapi sekarang adalah teknikalisme atau pandangan yang serba terkait dengan teknologi. Karena adanya perang sentral teknikalisme serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan itu, maka orang-orang menyebut zaman sekarang sebagai “technical age”.[5] Modernisasi berarti progressProgress adalah dinamika , yaitu suatu proses yang berputar terus-menerus.[6] Modernisasi adalah  pembangunan kemampuan individu-individu supaya mereka menguasai kebendaan, supaya mereka mampu mengatasi problematik sosial dan ekonomis, supaya mereka mampu mengatur hidup masyarakat.[7]
Dalam masyarakat Jawa, akrab dengan pembagian antara kalangan Islam yang secara setia menjalankan peraturan agama dan Islam KTP (santri vs. abangan). Sebagai suatu rumusan yang mungkin menggambarkan realitas sosial, rumusan ini seolah-olah menggambarkan kehidupan di Jawa statis dan tidak takluk pada perubahan.[8] Pemisahan kultural ini menjadi lebih buruk ketika dimasuki unsur politis, yang menumbuhkan kelompok-kelompok kultural yang terpisah, intoleransi, dan perjuangan idiologis yang hebat.[9]
Wujud budaya tidak lepas dari situasi dan waktu dihasilkannya unsur kebudayaan tersebut. Oleh karenanya, dalam kebudayaan dikenal dengan adanya perubahan. Seperti terjadinya penyempurnaan sehingga ditemukan adanya perkembangan budaya bangsa-bangsa di dunia ini, dari tingkat yang paling sederhana ke arah yang lebih kompleks. Dengan terjadinya globalisasi di era modern ini, ada unsur budaya lokal yang memiliki nilai universal  dan ditemukan pada bangsa-bangsa yang ada di belahan dunia lainnya.
Dalam proses perubahan kebudayaan ada unsur-unsur kebudayaan yang mudah berubah dan ada yang sukar berubah, berkaitan dengan hal ini Linton membagi kebudayaan menjadi inti kebudayaan (convert culture) dan perwujudan kebudayaan (overt culture). Bagian inti terdiri dari sistem nilai budaya, keyakinan keagamaan yang dianggap keramat, beberapa adat yang telah mapan dan telah tersebar luas di masyarakat. Bagian inti kebudayaan sulit berubah, seperti keyakinan agama, adat istiadat, maupun sistem nilai budaya.[10] Sementara itu wujud kebudayaan yang merupakan bagian luar atau fisik dari kebudayaan, seperti alat-alat atau benda-benda hasil seni budaya, mudah untuk berubah.
Dengan menggunakan kerangka teori tersebut, maka nilai budaya Jawa Islam yang sulit berubah di masa modern ini adalah yang terkait dengan keyakinan keagamaan dan adat istiadat. Dalam konteks terjadinya perubahan ke arah modernisasi yang berciri rasionalistis, materialistis dan egaliter, maka nilai budaya Jawa dihadapkan pada tantangan budaya global yang memiliki nilai dan perwujudan budaya yang pluralistik. Sebagai budaya lokal, budaya Jawa Islam memang memiliki nilai universal, disamping nilai lokalnya. Diantaranya, nilai keuniversalan itu terletak pada nilai spiritualnya yang religius magis. Nilai ini juga ditemukan pada bangsa di negeri lain, tidak terbatas pada budaya Jawa. Maka nilai itu nampaknya masih akan hidup di masyarakat, karena adanya faktor-faktor penyebab diantaranya, nilai spiritual Jawa Islam yang sinkretis, yang dalam realitasnya tidak mudah hilang dengan munculnya rasionalisasi diberbagai segi kehidupan karena diperlukan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup yang muncul di abad modern. Jadi, orang yang mengaku agama Islam, atau penganut budaya Jawa Islam, tidak dapat meninggalkan tradisi spiritualnya seperti slametan dan wetonan dengan membuat bubur abang putih agar mendapatkan keselamatan. Ketenangan batin mereka akan terusik jika tidak melaksanakan slametan pada hari tertentu sebagaimana terdapat dalam adat istiadat Jawa yang bertahun-tahun dilaksanakan oleh nenek moyang. Karena adat itu telah mengakar lama dalam masyarakat. Namun, dalam kenyataannya di masyarakat, ada pula adat istiadat Jawa yang telah mengalami pergeseran sehingga dipandang tidak memiliki nilai magis lagi, tetapi sekedar bernilai seni. Misalnya rangkaian upacara dalam perkawinan seperti tarub, siraman, midodareni, kacar kucur, dan lainnya, yang dulu mempunyai nilai religius magis.
Kehidupan spiritual di era modern ini secara umum memang tampak mengalami peningkatan, termasuk dikalangan masyarakat Jawa. Hal ini disebabkan karena sebagian besar orang mulai merasakan pengaruh negatif dari budaya modern yang hanya menonjolkan logika dan materi, tetapi kering dari nilai spiritual. Sejalan dengan hal itu maka banyak orang yang merindukan ketenangan batin dan larilah mereka ke ajaran agama dan kehidupan spiritual, termasuk spiritualitas Jawa Islam, yang mulai banyak dilirik kembali oleh masyarakat modern.
Kehidupan spiritual dibutuhkan pula oleh masyarakat modern di saat terjadi persaingan ketat yang menuntut profesionalisme dan kualitas tinggi di berbagai bidang. Hal ini menyebabkan banyak orang stress, dan mereka mencari ketenangan batin, diantaranya dengan kembali kepada tradisi spiritual Jawa Islam yang sinkretis. Tidak mengherankan jika di era modern ini upacara yang sejak dulu telah mengakar di masyarakat, yang bersifat religius magis banyak dilakukan lagi, seperti ruwatan untuk membuang sial. Kepercayaan bahwa orang-orang yang termasuk dalam kelompok sukerta, seperti anak tunggal, dapat menjadi korban dari Batara Kala, maka perlu diberi kekuatan batin. Hal ini mendorong orang-orang di era modern untuk melakukan ruwatan sebagai tolak bala.[11]
Budaya masyarakat Jawa lainnya yang masih tetap terpelihara dan dijaga oleh sebagian besar masyarakat Jawa di masa sekarang diantaranya,
1.      Prinsip kerukunan
Menurut Franz Magnis, yang dinamakan prinsip kerukunan apabila seseorang hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik.[12] Hal untuk mencegah konflik contohnya bisa dilakukan dengan kemampuan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak enak secara tidak langsung.[13]
2.      Prinsip hormat
Menurut Franz Magnis, yang dinamakan prinsip hormat apabila seseorang dalam berperilaku, berbicara, dan bertindak dapat menunjukkan sikap hormat kepada orang lain.[14] Dalam pengamatan Sutherland, sikap hormat dan sikap-sikap yang berhubungan dengannya berkembang dengan jelas dalam kalangan masyarakat dimana hidup sehari-hari sangat dipengaruhi oleh struktur-struktur hierarkis, yaitu dalam kalangan priyayi yang secara tradisional berpedoman pada tradisi kehidupan keraton. Sedangkan dalam lingkungan desa dengan struktur dasar yang egaliter sikap-sikap itu tidak memainkan peranan yang begitu besar. Begitu juga dalam masyarakat yang telah tersentuh oleh tradisi dan alam pemikiran modern yang menyeru pada kesamaan derajat dan kedudukan antarsesama.[15]
Dilihat dari kebutuhan masyarakat modern terhadap nilai optimal, maka perubahan nilai budaya Jawa Islam di era modern tampaknya lebih tampak terjadi pada budaya fisik. Dalam realitasnya, beberapa nilai budaya Jawa Islam seperti seni, ilmu pengetahuan, teknologi, dan gaya hidup, telah mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakat modern.
Sesuai dengan tuntutan masyarakat modern, unsur budaya Jawa Islam dalam beberapa bidang memang membutuhkan reinterpretasi agar sesuai dengan perubahan yang terjdi dalam masyarakat. Misalnya ungkapan-ungkapan yang selama ini ditangkap secara tekstual tidak sesuai lagi, perlu diberi pemaknaan yang rasional dan kondisional. Seperti  alon-alon waton kelakon. Ungkapan ini sering dikaitkan dengan etos kerja dan sikap orang Jawa yang terkesan selalu lambat. Untuk masa sekarang, tentu hal ini tidak cocok lagi karena dalam kehidupan modern dituntut adanya efisiensi waktu sehingga pekerjaan perlu dilakukan secara cepat dan tepat, ungkapan seperti ini kiranya perlu diberi makna baru, misalnya di masa modern ini segala pekerjaan perlu manajemen yang baik agar hasilnya optimal. Untuk itu diperlukan perencanaan dan evaluasi. Maka suatu pekerjaan tidak perlu dilaksanakan secara tergesa-gesa (grusa-grusu), tanpa perencanaan. Mekanisme kerja seperti itu tentu memerlukan prosedur yang lebih lama.dibandingan dengan yang dilaksanakan tanpa perencanaan. Jika hasilnya maksimal, tentu akan timbul ungkapan “biarlah lambat asal hasilnya optimal” senada dengan alon-alon waton kelakon.[16]
Kehidupan modern ini secara umum memang mengalami peningkatan, termasuk dikalangan masyarakat Jawa. Di zaman yang modern ini manusia dituntut untuk memainkan fungsi akal dan pikiran demi menyikapi kebudayaan modern yang disuguhkan didepan kita. Tidak mungkin rasanya menolak kebudayaan yang mengandung manfaat bagi umat manusia. Maka dengan penyikapan yang kritis, disatu sisi kita tetap menjaga identitas kebudayaan sendiri dan disisi lain, kita tidak terpingkirkan dari perkembangan zaman.[17]
Pemisahan yang dikembangkan dalam buku Geertz The Religion of Java mengenai santri-abangan sekarang ini dapat dilihat sebagai bagian dari struktur masyarakat yang sudah lewat. Sekarang ini, setidaknya yang terlihat di tingkat kelas menengah berpendidikan di kota, dua arus utama dalam budaya Jawa itu sedang saling bertemu. Apalagi, semua orang Jawa, apapun tingkat Islamisasi mereka, mengambil bagian dalam budaya Jawa.[18]
Selain itu perlu dilakukan rekonstruksi agar kesan feodalisme yang melekat dalam budaya Jawa, seperti tata krama yang menerapkan hierarki bahasa, dapat diubah dalam bentuk yang egaliter. Karena dalam era modern orang tidak lagi dibatasi oleh sekte-sekat budaya sehingga menginginkan penggunaan bahasa yang berlaku nasional atau internasional. Disamping itu, prinsip egaliter dalam kehidupan sosial kemasyarakatan mulai didengungkan disemua lapisan masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan bahasa krama inggil yang mencerminkan strata sosial masyarakat tidak perlu dipaksakan pemakaiannya. Yang penting, secara substansial nilai sopan santun berbicara dan bertingkah laku yang terdapat dalam budaya Jawa Islam tetap dilestarikan, walaupun dalam format bahasa nasional atau pun internasional. Alasannya, pada dasarnya nilai kesopanan dalam berbicara dan bertingkah laku  itu merupakan nilai universal yang diterima oleh umat manusia di mana pun.
Dengan sifat budaya Jawa yang lentur, diharapkan nilai-nilai budaya Jawa Islam yang luhur masih dapat bertahan, sewaktu harus berhadapan dengan unsur budaya modern yang global. Dalam komunikasi antar budaya yang pernah terjadi antara budaya Jawa dengan budaya Hindu, Budha, dan Islam, ternyata tidak menyebabkan budaya Jawa luntur, tetapi justru diperkaya dan diperhalus, melalui asimilasi maupun akulturasi. Dan untuk berkomunikasi itu budaya jawa memiliki prinsip yang mendukung elastisitas tersebut, misalnya filsafat tentang “keselarasan sosial” dan membangun kesejahteraan umat manusia.[19]
III.  Penutup
A.    Kesimpulan
B.     Penutup
Kritik saran



[1] Niels Mulder, Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlm. 250.
[2] Ahmad Khalil, Islam Jawa: Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa, (Malang: UIN Press, 2008), hlm. 129.
[3] Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta : Gama Media, 2000), hlm. 277-279.
[4] Ibid, hlm. 282-285.
[5] Muhammad Tholhah Hasan, Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman, (Jakarta: Lantabora Press, 2003), hlm. 244.
[6] Niels Mulder, Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional, (Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1996), hlm.55-56.
[7] Ibid, hlm. 57.
[8] Niels Mulder, Agama. . ., Op. Cit., hlm. 249.
[9] Ibid, hlm. 251.
[10] R.Linton, The Study of Man. Appleton: New York, 1936, hlm 357-360. Lihat pula Koentjaranigrat, Sejarah Teori Antropologi, UI Press : Jakarta, 1990, hlm 97-98.
[11] Darori Amin, Islam. . ., Op. Cit. 286-288.
[12]Ahmad Khalil, Islam Jawa. . ., Op. Cit., hlm. 162.
[13] Ibid, hlm. 169.
[14] Ibid, hlm. 162.
[15] Ibid, hlm. 195.
[16] Darori Amin, Islam. . ., Op. Cit. 288-289.
[17] Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), hlm.12.
[18] Niels Mulder, Agama. . ., Op. Cit., Hlm. 249.
[19] Darori Amin, Islam. . ., Op. Cit., hlm. 289-290

Tidak ada komentar:

Posting Komentar